Pesantren Ittihadul Muhibbin menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Selasa pagi, 25 Agustus 2026. Kegiatan berlangsung khidmat dan meriah dengan diikuti oleh keluarga besar pesantren. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan yang dipandu. Setelah pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji yang dibawakan oleh Dewan Muallim hingga memasuki mahallul qiyam. Lantunan maulid tersebut berlangsung penuh kekhusyukan sebagai ungkapan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
Usai pembacaan maulid, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Direktur Pesantren Ittihadul Muhibbin, Ustadz H. Imamul Authon Nur, Lc., M.Th. Kemudian, para santri menampilkan pembacaan puisi. Suasana semakin semarak ketika Hymne Pesantren dinyanyikan oleh para santri dengan penuh semangat.
Memasuki acara utama, jamaah menyimak tausiyah dan ceramah Dalam ceramahnya, Ustadz Muhammad Fadhli mengangkat tema tentang betapa hebatnya Rasulullah SAW serta luasnya pengaruh beliau dalam sejarah peradaban manusia. Untuk menggambarkan besarnya pengaruh Rasulullah SAW, beliau merujuk pada buku karya Michael H. Hart, penulis asal New York, Amerika Serikat. Dalam buku The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History, Hart menempatkan Nabi Muhammad SAW di posisi pertama sebagai tokoh yang dinilai paling berpengaruh dalam sejarah. Pesan yang disampaikan bukan sekadar tentang pengakuan seorang penulis Barat terhadap sosok Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi pengingat bagi umat Islam untuk semakin mengenal, mencintai, dan meneladani kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Ustadz Muhammad Fadhli kemudian mengaitkan kehebatan Rasulullah SAW dengan tradisi keilmuan Islam pada masa lalu. Para ulama terdahulu, menurutnya, dikenal memiliki penguasaan ilmu yang sangat luas. Mereka tidak hanya mendalami ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga menguasai berbagai disiplin ilmu lainnya. Hal tersebut menjadi pelajaran penting bagi para santri agar tidak membatasi diri dalam menuntut ilmu. Santri diharapkan memiliki wawasan yang luas, menguasai berbagai bidang pengetahuan, sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai agama dan akhlak. Semangat tersebut sejalan dengan pesan Maulid Nabi, yakni menjadikan Rasulullah SAW sebagai teladan dalam kehidupan, baik dalam akhlak, kepemimpinan, keilmuan, maupun pengabdian kepada umat.
Setelah rangkaian tausiyah selesai, acara peringatan Maulid Nabi SAW ditutup dengan doa. Selanjutnya, keluarga besar Pesantren Ittihadul Muhibbin menikmati makan siang bersama sebagai bagian dari kebersamaan dan silaturahmi. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan salat Zuhur berjamaah.
Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pesantren Ittihadul Muhibbin pun tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang kelahiran Rasulullah SAW, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan kecintaan kepada Nabi, memperluas wawasan keilmuan, serta membangkitkan semangat para santri untuk menjadi generasi yang berilmu, berakhlak, dan memberikan manfaat bagi umat dan masyarakat.






