Pesantren Ittihadul Muhibbin menyelenggarakan kegiatan kuliah umum bersama Syekh Hisyam Kamil Hamid Musa Al-Azhariy As-Syafi’iy pada Rabu, 4 November 2026. Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini mengangkat tema “Siapa Itu Ahlussunnah wal Jamaah?” sebagai upaya memperluas wawasan keislaman serta memperkuat pemahaman para santri mengenai sejarah, prinsip, dan karakteristik Ahlussunnah wal Jamaah.
Acara diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara (MC), Muallim H. Gufran Munajat, Lc., yang memandu jalannya kegiatan menggunakan bahasa Arab dengan fasih. Suasana pembukaan berlangsung khidmat dan mencerminkan nuansa keilmuan khas tradisi pendidikan Islam. Selanjutnya, kegiatan dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dilantunkan oleh Muallim Abdul Hafiz, M.Ag.
Memasuki acara inti pembukaan, Direktur Pesantren Ittihadul Muhibbin, Muallim H. Imamul Authon Nur, Lc., M.TH., menyampaikan sambutan sekaligus memperkenalkan secara singkat profil Pesantren Ittihadul Muhibbin. Dalam penyampaiannya, beliau menjelaskan gambaran umum pesantren, visi pendidikan, serta komitmen lembaga dalam membangun tradisi keilmuan Islam yang berlandaskan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah.



Setelah sambutan direktur, kegiatan dilanjutkan dengan penyampaian materi oleh Syekh Hisyam Kamil Al-Azhariy As-Syafi’iy. Dalam pemaparannya, Syekh Hisyam mengawali pembahasan dengan mengajak para peserta menelusuri sejarah awal munculnya berbagai golongan dalam Islam pascawafatnya Rasulullah ﷺ. Beliau menjelaskan bahwa perjalanan sejarah umat Islam setelah masa kenabian diwarnai sejumlah peristiwa besar yang kemudian memberikan pengaruh terhadap perkembangan pemikiran dan munculnya berbagai kelompok dalam tubuh umat Islam.
Di antara peristiwa penting yang dibahas adalah Perang Shiffin dan Perang Jamal. Kedua peristiwa tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah umat Islam, khususnya dalam dinamika politik dan perselisihan yang terjadi pada masa kepemimpinan Khulafaur Rasyidin. Syekh Hisyam kemudian menjelaskan perkembangan kelompok-kelompok yang muncul setelah peristiwa tersebut, termasuk kelompok yang dikenal sebagai Syiah, yang memiliki kecenderungan fanatik terhadap Sayyidina Ali bin Abi Thalib, serta kelompok Khawarij yang mengambil sikap berseberangan dalam persoalan tersebut.

Pembahasan berlanjut pada berakhirnya masa pemerintahan Khulafaur Rasyidin dan peralihan kepemimpinan kepada Dinasti Umayyah di bawah pemerintahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Melalui penjelasan historis tersebut, Syekh Hisyam memberikan gambaran mengenai bagaimana dinamika politik, perbedaan pandangan, dan perkembangan pemikiran turut membentuk perjalanan sejarah umat Islam hingga munculnya berbagai aliran dan kelompok keagamaan.
Selanjutnya, Syekh Hisyam menguraikan karakteristik dan prinsip-prinsip Ahlussunnah wal Jamaah yang membedakannya dari kelompok-kelompok lainnya. Salah satu poin penting yang disampaikan adalah pemahaman mengenai kedudukan Allah SWT dan sifat-sifat-Nya, termasuk pembahasan tentang mukjizat para rasul. Beliau menjelaskan bahwa mukjizat bukanlah sesuatu yang wajib bagi Allah SWT, melainkan merupakan bentuk kemuliaan dan anugerah khusus yang diberikan Allah kepada para rasul sebagai bukti kebenaran risalah yang mereka bawa.



Penjelasan tersebut memberikan pemahaman bahwa dalam akidah Ahlussunnah wal Jamaah, segala sesuatu yang berkaitan dengan Allah SWT harus dipahami berdasarkan prinsip ketuhanan yang benar, tanpa membatasi kekuasaan dan kehendak-Nya. Allah SWT Mahakuasa atas segala sesuatu, sementara mukjizat merupakan salah satu bentuk kekuasaan dan kemuliaan yang Allah tampakkan melalui para rasul-Nya.
Melalui kuliah umum ini, para santri diajak untuk tidak hanya mengenal Ahlussunnah wal Jamaah sebagai sebuah identitas keagamaan, tetapi juga memahami akar sejarah, landasan pemikiran, serta prinsip-prinsip akidah yang menjadi pijakannya. Pemahaman tersebut diharapkan dapat membentuk sikap beragama yang lebih mendalam, kokoh, dan bertanggung jawab.
Kegiatan ini menjadi salah satu ikhtiar Pesantren Ittihadul Muhibbin dalam menghadirkan tradisi keilmuan Islam melalui pertemuan langsung dengan para ulama dan masyayikh. Dengan adanya kuliah umum ini, diharapkan para santri semakin mencintai ilmu, memiliki pemahaman keislaman yang komprehensif, serta mampu menjaga dan mengamalkan nilai-nilai Ahlussunnah wal Jamaah dalam kehidupan sehari-hari.
