Sei Glugur, Senin malam, 12 Oktober 2026 — Pesantren Ittihadul Muhibbin kembali menggelar kegiatan Jalsah Rasulullah SAW pada Senin malam, 12 Oktober 2026, selepas salat Isya. Kegiatan ini berlangsung dalam suasana religius dan penuh khidmat sebagai ikhtiar untuk menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW, menghidupkan tradisi pembacaan selawat dan maulid, serta memperkuat pemahaman santri terhadap akidah Ahlussunnah wal Jamaah.
Rangkaian acara diawali dengan lantunan kasidah yang dibawakan oleh para santri Pesantren Ittihadul Muhibbin. Suasana majelis semakin semarak dengan pujian dan selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Acara kemudian dibuka oleh pembawa acara, Sayyid Moha Haraki, salah seorang santri Pesantren Ittihadul Muhibbin, dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an oleh Sulthan Athallah.
Selanjutnya, majelis diisi dengan pembacaan Maulid Al-Barzanji yang dipimpin oleh Muallim Abdul Hafiz, M.Ag., bersama Muallim Marhalim, S.Pd. Pembacaan maulid berlangsung hingga Mahallul Qiyam, yaitu bagian ketika para jamaah berdiri sebagai bentuk penghormatan dan ekspresi mahabbah kepada Rasulullah SAW. Lantunan selawat yang menggema menambah kekhusyukan suasana majelis.


Memasuki acara berikutnya, Direktur Pesantren Ittihadul Muhibbin, Muallim H. Imamul Authon Nur, Lc., M.Th., menyampaikan kata sambutan sekaligus pengantar. Dalam kesempatan tersebut, kegiatan Jalsah Rasulullah SAW menjadi momentum penting untuk menanamkan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW sekaligus memperkokoh tradisi keilmuan dan amaliah keislaman di lingkungan pesantren.
Acara kemudian dilanjutkan dengan tausiah utama yang disampaikan oleh Ustadz H. Ahmad Fauzan Mahfudz Lubis, Lc. dengan pembahasan seputar akidah Ahlussunnah wal Jamaah. Dalam ceramahnya, beliau menguraikan prinsip-prinsip akidah yang menjadi pegangan Ahlussunnah wal Jamaah serta mengkritisi sejumlah pandangan akidah Wahabi yang dinilai bertentangan dengan pemahaman Ahlussunnah wal Jamaah, khususnya dalam persoalan-persoalan teologis yang menjadi pembahasan di kalangan ulama.
Selain itu, beliau juga menjelaskan keutamaan berkumpul dalam majelis ilmu dan zikir yang diberkahi Allah SWT. Penjelasan tersebut mengingatkan para santri bahwa majelis yang diisi dengan mengingat Allah, mempelajari agama, dan berselawat kepada Rasulullah SAW merupakan sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT serta memperkuat ikatan persaudaraan sesama Muslim.


Tidak hanya membahas akidah, penceramah juga memberikan penjelasan mengenai beberapa bait dalam Maulid Al-Barzanji. Uraian tersebut mengajak para santri untuk tidak sekadar melantunkan syair-syair maulid, tetapi juga memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya, terutama yang berkaitan dengan kemuliaan akhlak, keagungan pribadi, serta keteladanan Rasulullah SAW.
Melalui kegiatan Jalsah Rasulullah SAW ini, Pesantren Ittihadul Muhibbin berharap agar para santri semakin mencintai Rasulullah SAW, memperdalam ilmu agama, memperkokoh akidah Ahlussunnah wal Jamaah, serta menjadikan akhlak Nabi Muhammad SAW sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.
Majelis ini juga menjadi pengingat bahwa kecintaan kepada Rasulullah SAW tidak cukup hanya diungkapkan melalui lisan dan lantunan selawat, tetapi harus diwujudkan dalam keteguhan iman, kemuliaan akhlak, semangat menuntut ilmu, dan kesungguhan dalam mengamalkan ajaran Islam.


